Friday, March 5, 2010

PRAHARA 2

Kini jika engkau percaya akan kebenaran dari apa yg kau tuturkan, tinggalkanlah manusia dgn adat rusak dan undang2 yg tak bernilai. Hiduplah di tempat yg terpencil dan jangan mematuhi hukum kecuali hukum bumi dan langit!'
Aku membalas,' Tuan, aku percaya apa yg kukatakan'
Dia mengangkat tangannya dan berbicara dgn suara keras dan pongah, 'Percaya adalah satu hal, namun perbuatan adalah hal yg lain, namun hidup mereka seperti rawa2 busuk. Mereka yg menengadahkan kepalanya di atas puncak gunung, namun jiwa mereka tetap tidur dalam kegelapan gua-gua.'
Sementara dia berbicara, aku tak sempat menyela. Dia bangkit dari tempatnya dan menempatkan burung murai di atas pakaian lusuh di dekat jendela. Dia lalu mengambil segenggam ranting kering dan melemparkannya ke atas api, sambil berkata.'Tanggalkan sepatumu dan keringkanlah kakimu. Kelembaban tidak sehat untuk manusia. Keringkanlah pakaianmu dan janganlah merasa segan'
Aku beranjak dan berdiri di dekat perapian, uap mengepul dari bajuku yg basah, sedangkan dia tetap tegak berdiri di pintu pondok, sambil memandang langit yg sedang murka.
Sejurus kemudian, aku bertanya pdnya, 'Sudah lamakah Anda tinggal di biara ini?'
Dia menjawab tanpa memandangku,'Aku datang kemari ketika bumi tanpa bentuk, dan jiwa Tuhan bergerak di atas permukaan air'
Tetapi dlm hatiku aku berfikir,'Betapa anehnya orang ini, dan betapa sulit untuk mengenalinya apa adanya. Meskipun demikian, aku harus bertanya pdnya dan mempelajari misteri2 jiwanya. Aku akan menanti dgn sabar sampai dia berhenti menghina dan menjadi lebih lunak dan lembut.'
Kegelapan menebarkan jubah hitamnya di atas lembah2, dan hujan turun terus menerus sehingga aku membayangkan bahwa banjir telah datang untuk kali kedua demi menghancurkan kehidupan dan memurnikan bumi dari kotorannya. Amukan prahara rupanya menciptakan kedamaian dlm jiwa Yusof el-Fakhri, sebab kadangkala suatu akibat memiliki dampak yg bertentangan. Kebenciannya pdku tiba2 berubah menjadi persahabatan. Dia bangkit dan menyalakan dua kandil. Dia meletakkan sebuah kendi tanah berisi anggur dan sebuah nampan berisi roti, keju, buah zaitun, madu, dan buah2an kering di hadapanku. Dia duduk di hadapanku dan berkata dgn santun,'Ini semua adalah makanan yg kupunya. Silakan, saudaraku, membaginya bersamaku.'
Kami menyantap makan malam kami dlm kebisuan, diiringi raungan angin dan ratapan hujan. Kuamati wajahnya di antara suapan2, mendalami untuk menemukan petunjuk yg tersembunyi di kedalaman jiwanya yg mungkin menyiratkan makna kehendak hati dan perasaannya, misteri2 yg berakar dlm jiwanya.
Setelah dia menghentikan makan malam, dia mengangkat sebuah ceret tembaga berisi kopi panas, menuang kopi murni yg harum ke dlm dua buah cawan, dan membuka kotak berisi rokok. Dengan tenang dia berkata.'Silahkan.saudaraku.'
Aku mengambil sebatang rokok dan mengangkat cawan kopi. Aku hampir tdk percaya pd apa yg aku lihat. Dia memandang seolah2 dia mengerti pikiranku, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Setelah kunyalakan rokok dan menyesap sedikit kopi, dia berkata.'Pasti, Anda terkejut menemukan anggur,tembakau, dan kopi di biara ini, serta makanan dan selimut . Aku tak menyalahkan Anda, karena Anda, seperti kebanyakan orang,membayangkan bahwa pengasingan dari khayalak ramai berarti pengasingan dari kehidupan dan dari kesenangan2 alamiah serta kegembiraan yg bersahaya dari kehidupan.'
Aku menjawab,'Ya, Tuan, krn kita biasa berfikir bahwa seseorang yg membelakangi dunia, untuk beribadah kpd Tuhan, meninggalkan di belakangnya segala kenikmatan dan kesenangan dunia demi hidup bersahaya, asketik, dan kehidupan menyendiri, mencukupi dirinya dgn air dan tumbuhan bumbu.'
Dia berkata, 'Aku bisa beribadah kpd Tuhan meskipun tinggal di tengah masyarakat, krn beribadah itu tdklah memerlukan pengasingan dan kesendirian. Aku tdk meninggalkan dunia untuk menemukan Tuhan, krn aku telah menemukan-Nya di rumah ayahku dan di setiap tempat yg lain. Aku mengelak khayalak ramai krn sifatku tdk sesuai dgn sifat mrk, impian2ku tdk seirama dgn mimpi2 mrk. Aku meninggalkan khayalak ramai krn kutemukan diriku adalah sebuah roda yg berbelok ke kanan di antara banyak roda yg berbelok ke kiri. Kutinggalkan kota hingga kutemukan sebuah pohon yg rusak,tua dan kuat, dgn akar2 yg terhunjam di kegelapan bumi dan cabang2nya menggapai mega. Namun bunga2 adalah ketamakan,penganiayaan, dan kejahatan. Buah2nya adalah kesengsaraan, penderitaan dan ketakutan. Orang2 budiman mencari korupsi apapun untuknya yg akan mengubah hakikatnya, tp mrk gagal. Mereka mati karena kecewa,tertindas dan dikalahkan.'
Pada saat itu, dia bersandar pd perapian, sambil melihat untuk menemukan kesenangan di dlm pengaruh kata2nya terhadapku. Dia agak memperkeras suaranya dan melanjutkan, 'Tidak, aku tdk mencari kesendirian untuk beribadah, bertapa, krn ibadah adalah nyanyian hati dan akan mencekau telinga Tuhan justru jika berpadu dgn suara ribuan org. Bertapa? Itu mengawasi tubuh dan membuat malu hasratnya. Ini tak mendapat tempat dlm agamaku. Tuhan menciptakan tubuh sebagai kuil bagi jiwa. Kita hrs melindungi kuil ini agar ia tetap kuat dan suci, cocok untuk keilahian yg turun ke dalam nya.
'Tidak,saudaraku, aku tdk mencari kesunyian untuk beribadah dan bestapa. Aku mencarinya ketika aku mengelak dari khalayak ramai, dari undang2 dan ajaran dan kebiasaan serta pikiran2nya, dari tuntutan dan ratapannya. Aku mencari kesunyian agar aku tak melihat wajah org2 yg menjual jiwa mereka demi membeli sesuatu yg lebih murah . . .bersambung

PRAHARA Karya KAHLIL GIBRAN

Dalam tahun ketiga puluh dari hidupnya, Yusof el-Fakhri meninggalkan dunia dan semua yg ada di dlmnya demi hidup sebagai seorang pendiam, pertapa asketik di dlm biara sunyi di tepi Lembah Kadisha di sisi utara Gunung Lebanon itu.
Penduduk dari desa2 tetangga berselisih mengenai siapa dia sebenarnya.Sebagian mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga hartawan dan terpandang, tapi dia dikhianati oleh wanita yg dia cintai. Karena alasan ini dia tinggalkan rumah tuanya, mencari penghiburan dlm kesendirian. Yg lain berkata bahwa dia adalah seorang penyair hebat yg melarikan diri dari tuntutan masyarakat agar bisa mencatat pikiran2 dan perasaannya dlm puisi. Yg lain berkata bahwa dia adalah seorang sufi yg saleh, yg dipenuhi dgn keyakinannya dan tak memperdulikan dunia. Bahkan yg lain berujar dgn enteng, Dia gila.
Aku sendiri tak punya kesimpulan terhadap pendapat2 ini, krn aku tahu bahwa jiwa2 yg berisi misteri gelap takkan pernah bisa diungkap dgn spekulasi yg gampangan. Ingin kutemui org asing itu dan ingin sekali bercakap2 dgnnya. Dua kali aku mencari untuk mendekatinya agar menemukan penjelasan siapakah dia sesungguhnya.dia hanya membelalak dan menolak diriku dgn kasar dan kata2 dingin. Saat pertama aku berjumpa dgnnya, dia sedang berjalan dekat hutan Cedar. Aku melempar salam pdnya sesopan aku mampu. Dia kembali melempar salam dgn anggukan pendek, berpaling,dan pergi lari dariku. Kali kedua aku menemukannya sedang berdiri di tengah sebuah kebun anggur kecil dekat biaranya. Aku menghampirinya dan berkata, 'Kemarin aku mendengar bahwa seorang pendeta Syiria membangun biara ini pd abad keempat belas. Apa Anda tahu sesuatu tentang itu, Tuan?'.
Dia menjawabku dgn membelalak,' Aku tak tahu siapa yg mendirikan pondok ini, jg aku tak mau tahu.'Lalu dia membalikkan punggungnya ke arahku dan menambahkan dgn rasa penghinanan.'Mengapa tdk kau tanya nenekmu? dia lebih tua dan lebih tahu tentang sejarah lembah2 ini.' Maka aku meninggalkannya, bingung dan malu atas sikap kekanakanku.
Dua tahun berlalu. Kehidupan org yg mengandung teka teki ini memikat imajinasiku dan memenuhi pikiran serta mimpi2 ku.
Suatu hari di musim semi aku mengembara di antara perbukitan dekat biara Yosof el-Fakhri dan tiba2 aku dikejutkan oleh sebuah prahara. Angin dan hujan membuat diriku laksanana alat permainan laut yg mengamuk mempermainkan sebuah kapal, gelombang menghancurkan kemudi dan angin mengoyak2 layarnya. Aku berbelok menuju biara itu, sambil membatin, Inilah kesempatan yg tlh lama kucari untuk menyambangi pertapa ini, karena badai akan menjadi alasanku dan pakaianku yg basah penyokongku.
Aku mencapai biara itu dlm keadaan yg menyedihkan.Tak lama kemudian aku mengetuk pintu, lalu lelaki yg tlh begitu lama kurindukan tlh tepat berada di hadapanku. Dia memegang seekor burung, kepalanya terluka dan sayap2nya patah, bergetar seolah2 dia berada dlm ambang nafas terakhirnya. Setelah memberi salam pdnya, aku berkata, 'Maafkan aku, Tuan, karena kedatanganku dgn cara begini, tapi badai begitu hebat dan aku jauh dari rumah.'
Dia mengamati wajahku dan k mudian berbicara dgn suara yg dinodai kemuakan.'Ada banyak gua di daerah ini. Anda bisa mengungsi di salah satu gua itu'.
Dia berkata sambil mengusap kepala burung dgn kelembutan yg tak pernah kulihat dlm hidupku. Aku heran dgn dua pertentangan -kekembutan dan kekejaman sekaligus- aku tak faham apa yg dilakukannya. Agaknya dia tahu apa yg ada dibenakku. Dia memandangku, mencari penjelasan, dan berkata,' Prahara takkan memakan makanan basi. Mengapa engkau takut pdnya dan melarikan diri?.
Aku menjawab, 'Prahara tdk mungkin seperti makanan, basi atau segar, tapi dia candu yg dingin dan basah. Tanpa ragu2 dia akan menemukanku laksana santapan yg lezat, dan dia akan meraih diriku sekali lagi.'
Wajahnya tenang sejenak lalu berkata,' Prahara akan menelanmu, kau akan mencapai suatu kehormatan yg engkau tak layak mendapatkannya.'
Aku membalas,'Ya, tapi Tuan, aku datang pdmu melarikan diri dari prahara agar tak menerima kehormatan yg tdk kuwarisi.'
Dia memalingkan kepalanya, mencoba menyembunyikan senyum tipisnya, dan menunjuk sebuah bangku kayu dekat perapian tempat sekobar api terbakar,'Duduk dan keringkan pakaianmu.'
Setelah berterima kasih, aku duduk di dekat perapian. Dia duduk di depanku pd sebuah bangku yg tersandar pd batu. Dia mulai memasukkan ujung2 jarinya ke dlm sebuah kendi tanah, mengusapkannya ke sayap dan kepala burung yg terluka. Lalu dia menoleh kpdku dan berkata,'Angin menangkap burung murai ini dan melempar dia menghantam batu karang, meninggalkan dia dlm keadaan setengah mati'
Aku menjawab,'Angin, Tuan, jg mebawaku ke pintumu, dan kini aku tak tahu apakah dia mematahkan sayapku atau melukai kepalaku.'
Dia menatap wajahku dgn penuh perhatian.'Betapa hebatnya manusia kalau memiliki sifat dasar seekor burung, sehingga angin dpt mematahkan sayapnya dan meremukkan kepalanya. Tapi manusia ada dgn sikap penakut dan pengecut. Begitu dia disentakkan prahara dia pun melarikan diri, berusaha menyembunyikan dirinya di antara bebatuan karang dan gua2 bumi.'
Sambil menerawangkan pikiran ini, aku berkata.'ya, burung itu memiliki kehormatan yg tak dimiliki manusia, krn manusia hidup dlm bayang2 hukum dan adat yg dia rencanakan untuk dirinya sendiri, namun sekawanan burung hidup sesuai dgn kemutlakan hukum semesta yg memandu bumi mengedari matahari.'
Matanya bercahaya dan wajahnya menunjukkan kegembiraan seorang guru yg menemukan seorang murid penuh pengertian.'Bagus.Bagus! bersambung

Thursday, March 4, 2010

Biografi KAHLIL GIBRAN

KAHLIL GIBRAN lahir di Bestari, Lebanon 1833. Pada usia 10 tahun ia berimigrasi ke Amerika bersama ibunya dan kedua adik perempuannya. Sempat kembali ke tanah kelahirannya selama tiga tahun untuk memperdalam bahasa Arab.
Kahlil Gibran menghabiskan masa remaja bersama seniman bohemian di Boston. Ia juga pernah tinggal di Paris selama setahun untuk berguru seni rupa pada beberapa seniman Perancis. Pulang dari Paris ia pindah ke New York dan menetap di kota ini sampai akhir hayat.
Tulisan-tulisan Gibran dikenal luas karena cita rasa orientalnya yg eksotik, bahkan mistis. Dianggap sebagai penyair Arab perantauan terbesar. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih 20 bahasa.
Kahlil Gibran meninggal di New York 1931, jenazahnya dimakamkan di Lebanon, tanah kelahirannya.

Wednesday, March 3, 2010

Perjalanan Sang Guru Menuju Venice 4

Engkau telah menanam bunga bakung putih di padang hatiku yg hancur, dan telah memindahkanku ke lembah yg jauh dan menunjukkan bahwa aku adalah seorang yg lemah.
'Wahai teman2 kesunyian dan pembuanganku: Tuhan telah menghendaki aku minum cangkir pahit kehidupan. KehendakNya kupenuhi. Kita bukanlah apa2, kita hanyalah atom2 yg lemah dlm surga yg terbatas, dan kita hanya bisa berbakti dan
Pasrah pd kehendak Tuhan.
'Jika mencintai, cinta kita bukanlah dari kita, atau bukan untuk kita. jika kita bergembira, kegembiraan kita tdk ada dalam diri kita, tetapi dalam kehidupan itu sendiri. Jika kita berduka, sakit kita tdk berada dlm luka kita, tetapi di dalam jantung Alam.
'Aku tidak mengeluh, sebagaimana aku ceritakan kisah ini: untuk mereka yg meragukan Kehidupan, dan aku adalah org yg beriman kuat. Aku percaya pd arti sebuah kepahitan yg ada dlm setiap obat yg aku minum dari cangkir Kehidupan. Aku percaya pd keindahan dukacita yg menembus hatilu. Aku percaya pd kasih sayang abadi dari jari2 yg mencengkeram jiwaku.
'Inilah ceritaku. Bagaimana aku bisa mengakhirinya, sementara dlm kebenaran ia tdk memiliki akhir?.
'Aku terus berlutut di depan peti jenazah itu, tenggelam dlm kebisuan, dan aku memandang wajah bidadari itu sampai fajar tiba. Kemudian aku berdiri dan kembali ke kamarku, menunduk di bawah berat Keabadian, yg ditopang oleh luka kemanusiaan yg penuh penderitaan.
'Tiga minggu kemudian aku meninggalkan Venice dan kembali ke Lebanon. Ini setelah aku menghabiskan waktu beribu2 tahun dlm kedalaman masa lalu yg luas dan bisu.
'Tetapi bayangan itu tetap ada. Walaupun aku telah mengetahui bahwa dia telah mati, dalam jiwaku dia tetap hidup. Dalam bimbingannya aku bekerja dan belajar. Pekerjaan itu, engkau, muridku, mengetahuinya dgn baik.
'Pengetahuan dan kebijaksanaan yg kuperoleh aku perjuangkan untuk membawa rakyatku dan para pemimpin mereka. Aku bawa ke Al-Haris, Gubernur Lebanon, dg jeritan org2 tertindas, yg tlh dicengkeram di bawah ketidakadilan dan kejahatan negaranya dan para pemimpin Gereja.
'Aku menghiburnya untuk mengikuti jalan para pendahulunya dan menghadapi pekerjaan2 seperti yg mrk lakukan, dgn pengampunan, amal, dan pemahaman. Aku katakan pdnya, Rakyat adalah kesucian dari kerajaan kita dan sumber dari kemakmuran. Dan aku katakan lebih lanjut, Ada empat hal yg membuat pemerintah terbuang dari dunianya: Kemurkaan, Ketamakan,Kesalahan, dan Kekerasan.
'Karena mengajarkan hal ini dan hal2 lain aku telah dihukum, dibuang ke pengasingan, dan dikucilkan oleh Gereja.
'Maka datanglah malam ketika Al-Haris, yg sedang susah hatinya,tdk bisa tidur. Sambil berdiri menghadap jendela, dia merenungkan cakrawala. Begitu mengagumkan!Begitu banyak tubuh2 surgawi yg hilang dlm keabadian! Siapakah yg menggerakkan bintang2 ini dlm garis edarnya? Apakah hubungan antara planet2 yg jauh itu dgn kita?Siapakah saya dan mengapa saya ada di sini?Semuanya Al-Haris tanyakan pd dirinya sendiri.
'Kemudian dia ingatkan telah membuangku dan menyesali cara2 kekerasan yg pernah dia lakukan pdku. Sekali dia datang kpdku,sambil memohon dgn amat akan pengampunanku. Dia menghormatiku dgn jubah resmi dan menyatakan diriku di depan semua org sebagai penasehatnya, sambil menaruh sebuah kunci emas di tanganku.
'Selama masa pembuanganku aku tdk menyesali apapun. Dia yg mencari kebenaran dan menyatakan pd umat manusia dibatasi oleh penderitaan. Penderitaanku telah memberi pelajaran pdku untuk memahami penderitaan umatku,penyiksaan atau pembuangan tdk membuat pandanganku picik.
'Dan sekarang atau lelah....'
'Setelah menyelesaikan ceritanya,Sang Guru menyuruh Sang Murit pergi. Murit itu bernama Almuhtada,yg berarti,'yg memperoleh petunjuk', dan pergi ke tempat pengasingannya untuk mengistirahatkan tubuh dan jiwanya dari kepenatan kenangan-kenangan masa lalu.

Perjalanan Sang Guru Menuju Venice 3

'Di sini adalah takdirmu.' Pelan2 aku menaiki tangga menuju rumah itu, diikuti olei tukang gondola yg membawa barang2ku. Ketika aku mencapai pintu gerbang, aku membayarnya dan membiarkannya pergi sambil mengucapkan terima kasih.
'Aku mengetuk, dan pintu terbuka. Aku masuk dgn disambut salam ratapan dan tangisan. Aku terkejut dan heran. Seorang pelayan tua datang mendekatiku, dan dg suara sedih menanyakan apa keinginanku.'Apakah ini rumah walikota?' aku menyelidik. Dia membungkuk dan mengangguk, kemudian aku menyerahkan surat tugas yg diberikan kpdku oleh Gubernur Lebanon. Dia mengamati surat itu dan berjalan dg serius menuju ruang tamu.
'Aku berpaling pd pelayan muda dan menanyakan sebab dukacitanya yg meliputi seluruh ruangan itu. Dia mengatakan bahwa anak perempuan Walikota meninggal dunia pd hari itu, dan dialah yg menutup wajah putri itu kemudian menangis sejadi2nya.
'Bayangkanlah perasaan seorang yg menyebrangi lautan, sepanjang waktu ia menunggu antara harapan dan keputusasaan, dan di akhir perjalanannya ia berdiri di gerbang rumah yg didiami oleh hantu2 ratapan dan dukacita yg kejam. Bayangkanlah perasaan seorang asing yg mencari hiburan dan keramahtamahan di satu rumah, namun ia hanya disambut oleh2 sayap2 Kematian.
'Segera pelayan tua itu kembali, dan membungkuk, kemudian berkata, 'Walikota menunggu Anda'.
'Dia mengantarku menuju pintu di ujung koridor yg paling tinggi, kemudian memberi isyarat kpdku untuk masuk. Di ruang tamu aku bertemu sekelompok pendeta dan para pejabat lainnya, semuanya tenggelam dlm kebisuan yg dlm. Di tengah ruangan, aku disambut oleh lelaki tua berjanggut putih panjang, yg menyalamiku dan berkata.. Kesedihan kami telah menyambutmu, yg dtg dari pulau seberang, di hari kami kehilangan anak perempuan kami yg tercinta. Walaupun aku percaya bahwa rasa kehilangan ini tidak akan mengganggu misimu, namun aku akan melaksanakan tugas itu sekuat tenagaku.'
'Aku mengucapkan terima kasih untuk keramahannya dan menunjukkan dukacita dalam lubuk hatiku yg terdalam. Kemudian dia mempersilahkan duduk, aku menikmati istirahat dlm keheningan.
'Seperti halnya aku melihat wajah2 sedih orang2 berkabung, dan mendengarkan keluh kesah mrk yg penuh kesakitan, aku merasakan hatiku tertutup oleh kesedihan dan kesengsaraan.
'Segera satu per satu dari org2 yg berkabung meninggalkan tempat itu, sehingga yg tinggal hanya aku dan ayah yg dilanda kesedihan itu. Ketika aku akan beranjak, dia menarikku, dan mengatakan,'Kumohon pdmu, temanku, jangan pergi. Jadilah tamu kami, semoga kamu dapat bersabar bersama kami dalam kesedihan.'
'Kata2nya menyentuh relung hatiku, aku menyetujuinya tanpa protes, dan dia melanjutkan,'Orang Lebanon adalah org paling terbuka untuk menerima org asing di negerinya. Kami benar2 hrs melalaikan tugas kami krn kami telah berbuat kurang baik dan sopan terhadap tamu kami dari Lebanon.'Dia membunyikan bel, dan pembantu rumah tangganya muncul menjawab panggilan itu, dgn memakai seragam yg sangat bagus.
'Tunjukkan tamu kita ini ke kamarnya di sebelah timur, dia berkata, dan jaga dia baik2 selama dia bersama kita.
'Pelayan itu mengantarku ke kamar yg sangat luas dan mewah yg ditunjuk tadi. Segera setelah itu ia pergi, aku merebahkan diriku di atas dipan, dan mulai memikirkan keadaanku di negeri asing ini. Aku mengingat kembali jam pertama yg tlh kuhabiskan di sini, di tempat yg sangat jauh dari tanah kelahiranku.
'Dalam beberapa menit, pelayan kembali, sambil membawakan makan malamku di atas sebuah nampan emas. Setelah selesai makan, aku mulai mengelilingi ruangan, kemudian berhenti di muka jendela untuk melihat langit Venice, dan mendengar suara gondola dan alunan ritmik bunyi dayung. Lama sebelum aku mengantuk, dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, aku membiarkan diriku melupakan semua kejadian, sehingga aku benar2 terlena dlm tidur dan ketenangan yg meletihkan.
'Aku tidak tahu berapa jam aku menghabiskan waktu di negeri ini, krn banyak wilayah luas kehidupan yg dilintasi jiwa,dan kita tdk bisa mengukurnya dg waktu, hasil ciptaan manusia. Yg aku rasakan kemudian hanyalah keadaan yg buruk di mana kutemukan diriku.
'Tiba2 aku sadar sebuah petir menyambar di atasku, beberapa ruh yg sangat halus memanggilku, tetapi tanpa ada tanda yg bisa dirasakan. Aku berdiri,dan berjalan menuju sebuah ruangan, seolah2 didorong oleh kekuatan ilahi. Aku berjalan, tanpa kukehendaki, seolah dlm mimpi, sambil merasakan seakan aku tengah melakukan perjalanan di dunia yg ada di balik ruang dan waktu.
'Ketika aku mencapai ujung sebuah ruangan besar, aku langsung membuka pintu dan mendapatkan diriku berada dlm sebuah kamar yg luas. Aku berdiri di tengahnya dikelilingi lilin2 yg berkelap kelip dan karangan bunga putih. Aku menunduk di sisi keranda mayat dan memandang almarhumah. Di hadapanku, diselubungi oleh kematian,adalah wajah kekasihku, teman hidupku. Dia adalah wanita yg kupuja, skr dingin dlm kematian, dibungkus kain kafan putih,dikelilingi bunga2 putih, dan dijaga oleh kebisuan masa.
'Oh Tuhan Kasih sayang, Kehidupan, dan Kematian! Engkau tlh menciptakan jiwa2 kami.Engkaulah pembimbing ruh2 kami menuju cahaya dan kegelapan. Engkaulah penenang hati kami dan membuat hati kami berharap dan bersedih. Sekarang Engkau menunjukkan pdku teman masa mudaku berada dlm kedinginan ini dan bentuk yg tanpa kehidupan.
'Tuhan, Engkau tlh melemparku dari tanah kelahiranku dan menempatkanku di tanah yg lain, dan menyingkapkan pdku kekuatan Kematian yg melampaui Kehidupan, dan Kesedihan yg melampaui Kesenangan. , .bersambung

Tuesday, March 2, 2010

PERJALANAN SANG GURU MENUJU VENICE 2 Gubernur Lebanon mengutusku ke Venice untuk sebuah misi ilmiyah, dgn sebuah surat rekomendasi untuk seorang wali kota, yg tlh ia temui di Konstantinopel. Aku meninggalkan Lebanon dg sebuah kapal Italia di bulan Nisan. Udara musim semi menyebarkan bau semerbak ,dan awan putih tergantung di atas cakrawala laksana lukisan2 yg sangat indah. Bagaimana hrs kugambarkan pdmu tentang kegembiraan yg kurasakan selama perjalanan itu? Kata2 tdk akan cukup untuk menjelaskan perasaan terdalam dlm hati manusia. 'Tahun2 yg kulalui bersama kekasih hanya terisi dg kesenangan,kebahagiaan,dan kedamaian. Aku tdk pernah menduga bahwa kesakitan menungguku, atau kepahitan itu bersembunyi di dasar cangkir kesenanganku. 'Saat perjalanan membosankan dari bukit2 dan lembah2 tempat asalku menuju pantai, kekasihku duduk di sisiku. Dia selalu bersamaku selama tiga hari penuh kesenangan yg kulalui di Beirut, menjelajahi kota dgnku, ikut berhenti di mana aku berhenti, dan dia tersenyum ketika seorang teman menyapaku. 'Ketika aku duduk di balkon penginapan, sambil melihat2 kota, dia bersamaku dalam lamunan2ku. 'Tetapi ketika aku naik kapal, perubahan besar telah menyapuku. Aku merasa tangan aneh mencengkeramku dan mendorongku ke belakang dan aku mendengar sebuah suara dlm diriku berbisik,'Kembalilah!Jangan pergi! Kembalilah ke pantai sebelum kapal mulai berlayar!' 'Aku tdk mengacuhkan suara itu.Namun kemudian ketika kapal berlayar, aku merasa seperti seekor burung kecil yg tiba2 terhempas di antara cakar2 elang dan dibawa terbang tinggi ke langit. 'Di malam hari, seperti pegunungan dan perbukitan Lebanon tenggelam di cakrawala, aku menemukan diriku di haluan kapal. Aku memandang berkeliling mencari wanita impianku, wanita yg amat kucintai, pasangan hari2ku, tetapi dia tdk lagi di sisiku. Perawan ayu yg wajahnya kulihat setiap kali aku menatap langit, yg suaranya kudengar dlm keheningan malam, yg tangannya kugenggam setiap kali kuberjalan di jalan2 kota Beirut -kini tidak lagi bersamaku. 'Untuk pertama kalinya dlm hidupku aku menemukan diriku sendiri di sebuah perahu yg berlayar di samudra nan dalam. Aku naik ke dek, sambil memanggil dia dalam hatiku, sambil menatap gelombang laut dg harapan dpt melihat wajahnya. Tetapi semuanya sia2. Di tengah malam, ketika semua penumpang yg lain tlh terlelap, aku kembali ke dek, dgn perasaan susah dan bingung. 'Tiba-tiba aku memandang ke atas, dan melihatnya, kekasih hidupku, berada di atasku, dalam jarak yg dekat dg haluan kapal. Aku melompat kegirangan, membentangkan tanganku, dan berteriak, 'Mengapa kamu meninggalkanku, kekasihku! Ke mana kamu pergi? Di mana kamu berada? Mendekatlah pdku sekarang, dan jangan pernah lagi meninggalkanku!' 'Dia tdk bergerak. Di wajahnya kulihat tanda2 kesedihan dan kesakitan, sesuatu yg tak pernah kulihat sebelumnya. Sambil berbicara lembut dg nada sedih, dia berkata, 'Aku datang dari kedalaman samudra untuk melihatmu sekali lagi, sekarang turunlah ke kabin,lalu tidurlah dan bermimpilah.' 'Setelah mengucapkan kata2 itu, dia menyatu dg awan gemawan, dan menghilang. Seperti seorang anak kecil yg lapar, aku memanggilnya dg penuh kekalutan. Aku membentangkan tanganku ke segala penjuru, tetapi yg tampak hanya udara malam, diwarnai dg tetesan embun. 'Aku turun menuju tempat tidurku, merasakan berkurangnya elemen2 gerakan dlm diriku. Seolah2 aku berada dlm kapal yg lain sama sekali, berada di tengah lautan. 'Sungguh aneh, secepat aku menyentuh bantalku, seperti itu pula aku tertidur. 'Aku bermimpi. Dlm mimpiku aku melihat sebuah pohon apel yg berbentuk spt salib, dan di atasnya seolah2 kekasih jiwaku tergantung dlm keadaan tersalib. Darah menetes dari kaki dan tangannya dan jatuh menimpa bunga2 pohon itu. 'Kapal terus berlayar, siang dan malam, tetapi aku seolah hilang dlm keadaan trance, tdk mengerti apakah aku seorang manusia yg tengah berlayar melewati musim atau hantu yg melintasi langit berawan. Sia-sia aku memohon pertolongan untuk bisa mendengar suaranya, atau menatap sorot matanya atau jemarinya yg lembut menyentuh bibirku. 'Empat belas hari tlh berlalu dan masih sendiri. Pada hari kelima belas, di sore hari, kami melihat bendera Italia di jarak tertentu, dan pd petang harinya kami telah memasuki pelabuhan. Sekelompok orang dg gembira menghiasi gondola, menyambut kapal dan membawa para penumpang ke kota. 'Kota Venice terletak di sebuah pulau yg sangat kecil, yg dekat dgn lainnya. Jalan2nya berupa kanal dan sejumlah penginapan dan tempat tinggal dibangun di atas air. Gondola merupakan salah satu alat transportasi. 'Tukang gondola-ku menanyakan ke mana tujuanku, dan ketika kukatakan ke rumah Walikota Venice, dia melihatku dg kagum. Ketika kami melewati kanal, malam telah menebarkan jubah hitamnya di seluruh kota. Cahaya yg memancar dari jendela2 penginapan dan gereja yg terbuka, pantulannya di air memberikan keindahan kota reperti dlm puisi impian, sangat menarik dan mempesona. 'Ketika gondola mencapai persimpangan dua kanal, tiba2 aku mendengar dentangan yg amat memilukan dari suara lonceng gereja. Walaupun aku berada dlm kondisi trance spiritual, dan jauh berada di awang2, suara itu mampu menembus kalbuku dan membangkitkan kesedihan jiwaku. 'Gondola sampai di dermaga, dan ditambatkan di kaki tangga pualam yg menuju jalan beraspal. Tukang gondola menunjukkan rumah yg sangat indah, berada di sebuah taman, kemudian dia berkata: Di sini adalah takdirmu.' Pelan2 aku menaiki tangga menuju rumah itu, dan diikuti oleh tukang gondola yg - bersambung

Karya Kahlil Gibran Perjalanan Sang Guru Menuju Venice

PERJALANAN SANG GURU MENUJU VENICE
Ketika sang murid melihat sang guru berjalan sendiri menuju taman, tanda2 kedalaman ilmunya tampak jelas melalui wajahnya yg pucat. Sang murid mengagungkan gurunya dg nama Allah, dan meminta penjelasan tentang sebab duka citanya. Sang guru memberi isyarat dg tongkatnya dan meminta sang murid duduk di atas batu dan siap mendengarkan cerita sang guru.
Sang guru berkata:
Kamu menginginkan aku untuk menceriterakan tragedi yg kenangannya hidup kembali di setiap hari dan malam memenuhi kalbuku, kamu bosan dg kebisuanku yg panjang dan rahasiaku yg tak terucapkan, dan kamu terganggu oleh keluh kesah dan ratapanku. Terhadap dirimu sendiri kamu berkata, Jika sang guru tidak mengizinkanku memasuki kuil dukacitanya,bagaimana aku akan memasuki rumah kasih sayangnya?. 'Dengarkan ceritaku ... Dengarkanlah, tetapi jangan kasihani aku,krn rasa kasihan mengundang kelemahan padahal aku msh kuat dalam penderitaanku.
'Sejak masa mudaku, aku sering didatangi oleh seorang wanita aneh,baik saat aku terjaga maupun tidur. Aku mendengarnya ketika aku sendiri di malam hari, sambil duduk di sisi tempat tidurku. Dalam kebisuan tengah malamku.aku mendengar suaranya yg merdu. Seringkali, ketika aku menutup mataku, aku merasakan sentuhan jemarinya yg lembut di atas bibirku, dan tatkala kubuka mataku, aku telah dikuasai oleh ketakutan,dan tiba2 mulai sering mendengarkan suara2 dari Ketiadaan...
'Seringkali aku merasa heran, sambil berkata pd diriku sendiri, Inikah khayalanku yg membuatku bingung hingga aku merasa seolah2 hilang dlm awan gemawan? Apakah aku telah menciptakan dari urat2 nadi mimpi2ku satu ketuhanan yg baru dg suara melodi dan sentuhan yg lembut? Apakah aku kehilangan rasa, dan dlm kegilaanku tlh menciptakan seorang kekasih tersayang ini? Apakah aku tlh menarik diriku dari masyarakat manusia dan keramaian kota sehingga aku bisa hidup sendiri dg kekasihku tercinta ini? Apakah aku tlh menutup mata dan telingaku dari berbagai bentuk kehidupan sehingga aku merasa lebih baik melihatnya dan mendengar suara surgawinya?
'Seringkali aku merasa heran: Apakah aku org gila yg ditakdirkan untuk menyendiri, dan dari hantu kesendiriannya itu menciptakan seorang teman dan pasangan untuk jiwanya?'
'Aku berbicara mengenai pasangan, dan kamu merasa aneh dg kata itu. Tetapi betapa kita sering dibingungkan oleh pengalaman2 aneh,yg kita tolak sebagai sebuah kemustahilan, tetapi realitasnya tdk dpt kita hilangkan dari pikiran kita, cobalah apa yg hrs kita lakukan?
'Wanita dlm lamunan ini sungguh telah menjadi pasanganku, yg berbagi seluruh kebahagiaan dan derita kehidupan dg diriku. Ketika aku terbangun pd pagi hari, aku melihatnya menekuk bantalku, sambil menatapku dg mata yg dipenui sinar kebaikan dan cinta keibuan. Dia bersamaku di saat aku merencanakan suatu pekerjaan, dan dia menolongku untuk menyelesaikannya. Ketika aku akan menyantap hidangan, dia duduk bersamaku, dan kami bertukar pikiran dan bercengkeram. Di sore hari, dia bersamaku lagi, dgn mengatakan, 'Kita telah tinggalkan disini terlalu lama di tempat ini. Marilah kita berjalan di ladang2 dan padang2 rumput.' Kemudian aku meninggalkan pekerjaanku, dan mengikutinya menuju ladang2, dan kami duduk di atas sebuah batu yg tinggi dan menatap cakrawala yg jauh. Dia menunjukkan pdku mega2 berwarna emas, dan menyadarkanku tentang nyanyian burung yg berkicau sebelum mrk tidur di mlm hari, sambil bersyukur kpd Tuhan atas karuniaNya yg berupa kebebasan dan kedamaian.
'Setiap saat ia dtg ke kemarku, saat aku gelisah dan susah. Kemudian seluruh kecemasan dan kesusahan itu berubah menjadi kesenangan dan ketenangan. Ketika jiwaku memberontak melawan ketidakadilan seseorang terhadap org lain, dan aku melihat wajahnya berada di tengah2 wajah2 yg ingin kuhindari, prahara dlm hatiku hilang seketika dan digantikan oleh suara2 kedamaian surgawi. Ketika aku sendiri dan anak panah kepahitan hidup menikam jantungku, aku melihat kekasihku menatapku dg mata yg penuh kasih sayang, sehingga kesedihan berubah menjadi kegembiraan, dan Kehidupan tampak seperti Surga Eden kebahagiaan.
'Kamu mungkin bertanya, bagaimana aku dapat menyenangi eksistensi aneh yg demikian, dan bagaimana seorang lelaki, seperti diriku, di musim semi kehidupan, menemukan kesenangan dlm hantu2 dan mimpi2? Tetapi kukatakan pdmu, tahun2 yg telah kulalui dinegeri ini merupakan batu pertama dari seluruh perjalanan yg membuatku mengerti akan Kehidupan, Keindahan, Kebahagiaan, dan Kedamaian.
'Karena kekasih imajinasiku aku menjadi suka berpikiran bebas melayang2 di depan wajah matahari, atau mengambang di atas permukaan air, sambil menyanyikan sebuah lagu dlm sorotan cahaya rembulan sebuah lagu kedamaian yg menenangkan jiwa dan membimbingnya menuju keindahan yg tak terlukiskan.
'Kehidupan adalah apa yg kita lihat dan kita alami melalui jiwa, sedangkan dunia yg ada di sekeliling kita, kita ketahui melalui pemahaman dan akal kita. Pengetahuan demikian membawa kita pd kesenangan atau kesedihan yg besar. Dan kehidupan ini adalah kesedihan yg ditakdirkan untukku sebelum aku berusia tiga puluh tahun, seolah2 aku telah mati sebelum aku mencapai tahun2 yg mengeringkan darah dijantungku dan air kehidupanku, dan meninggalkanku seperti pohon layu dgn cabang2 yg tak lagi tertiup angin sepoi2, dan tempat yg tak lagi ditempati burung untuk bersarang.'
Sang guru berhenti sebentar, kemudian melanjutkan cerita dgn duduk di samping sang murid:
'Dua puluh tahun yg lalu, Gubernur Lebanon mengutusku ke Venice , bersambung